Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

ISSU CORONA MUNCUL, ISSU ANAK HILANG

Kamis, 09 April 2020 | 12.58 WIB Last Updated 2020-04-09T05:58:06Z
Oleh : Muhammad AR 
Acehvoice.com | Banda Aceh - Pemikiran manusia secara global tertuju pada issu virus corona saja, selainnya terabaikan sama sekali. Apalagi isu anak-anak yang terkurung di rumah, tidak kesekolah, tidak boleh keluar bermain dan sebagainya. Padahal kalau dibandingkaan dengan issu yang lain jauh lebih mematikan daripada issu corona itu sendiri. Misalnya tulisan  yang ada di kota rokok tertulis “rokoh membunuh” namun tidak ada orang panic. Karena upaya pembunuhan secara perlahan tapi pasti ini dilegalkan pemerintah.  Narkoba  cukup banyak orang meninggal tetapi masih banyak orang ketawa. Bunuh diri juga lebih banyak orang mati total dan tidak ada yang selamat, tetapi terapi  untuk itu tidak ada sama sekali, bagaimana supaya orang tidak mengambil jalan pintas untuk mati.  Kelaparan di belahan bumi Afrika yang saban hari mati karena tidak ada makanan,   tidak ada yang riuh. Pembantaian umat Islam Palestina  saban hari oleh tentara Zionis Israil tak ada yang peduli walaupun dari negara-negara Islam. Pembantaian dan pengusiran  kaum Muslim Rohingya hingga kini oleh Pemerintah Budha Miyanmar masih sekarang belum ada yang mau menyelesaikannya. Mereka dirampas bulat-bulat negerinya, harta bendanya oleh Pemerintah Budha Miyanmar bersama para Biksunya. Dunia terus menerus diam. Perlakukan Pemerintah India terhadap umat Islam hingga penganianyaan, pembunuhan, dan pembantaian oleh Extrimis Hindu, dunia lagi-lagi diam saja. Seharusnya Kerajaan Malaysia, Uni Emirat Arab, Oman dan negara-negara Arab lainnya  menyuruh pulang semua tenaga kerja India ke rumahnya masing-masing selesai. Orang Islam dibunuh, orang Hindu dikirim ke negeri-negeri Islam untuk diberi makan.  
Pembantaian umat Islam Uyghur di Cina reda karena Allah kirim Corona ke sana, negeri-negeri Islam membuat hubungan istimewa dengan China sehingga matanya tertutup untuk melihat saudaranya dibantai. Nasib baik Allah menerima doa-doa orang terdhalimi hingga pasukannya tiba di Wuhan. Tapi umumnya manusia di dunia, lebih-lebih lagi pemerintah di negeri-negeri Islam bungkam dua ribu bahasa. Mereka lebih mempertahankan kursi empuknya daripada membela saudaranya yang terdhalimi. Kenapa sekarang seluruh dunia merebak virus corona, karena seluruh dunia tau bahwa kedhaliman di China, di Palestina, di India, di Miyanmar, di Afrika, seolah-olah mereka buta dan tuli semuanya sehingga ketika Allah mengirim wabah bukannya untuk satu bangsa, tetapi semua bangsa harus  merasakannya akibat mereka tidak menjalankan amar makruf dan nahi mungkar. Kita harus  belajar di masa lalu kenapa bangsa-bangsa besar seperti kaum Nabi Nuh, Kaum Nabi  Musa, Kaum Nabi  Ibrahim, Kaum ‘Ad, Kaum Tsamud semuanya berakhir dengan menyedihgkan bahkan spesiesnyapun tamat riwayat seperti ‘Ad dan Tsamud yang postur tuubuh mereka  seperti raksasa. 
Terakhir pelecehan terhadap anak-anak baik di Aceh ataupun di seantero Indonesia masih belum reda. Paling celaka lagi pelecehan anak dilakukan oleh orang-orang terhormat dan di tempat terhotmat pula, misalnya di lembaga pendidikan baik pendidikan umum ataupun lembaga pendidikan religi, dan pelaku rata-rata adalah gurunya. Paling celaka lagi guru/ustad/teungku itu sudah punya isteri dan anak-anak pula, tetapi masih tega melakukan hal-hal yang mengaibkan itu.  Kemungkinan besar mereka adalah orang-orang sakit jiwa yang tidak mungkin lagi diobati kecuali pengebirian.  Itulah dunia semakin tua usianya, semakin biadab para penduduknya. Kalau begitu tidak salah kalau Allah swt mengirimkan makhluk terkecilnya yang namanya  corona Peredana Menteri Israel-pun sudah dua kali dirawat tentang penyakit tersebut, lihat Haaretz, Sunday, 5 April 2020.  Semua manusia durhaka akan terjangkiti penyakit yang mematkan ini, konon lagi mereka-mereka yang telah membuat orang lain mati dan menderita. Namun orang-orang beriman juga akan terkena penyakit ini sebagai peringatan atau cobaan Allah atas kelalaian mereka dalam  membiarkan  kemungkaran berlaku di tempat mereka  atau dihadapan mereka tanpa mencegahnya.
Dengan munculnya isu virus corona, rumah sakit sudah sepi, artinya orang sakit-pun kalau bisa bertahan di rumah, untuk apa ke rumah sakit. Dengan munculnya  isu corona, isu penyakit yang lain tenggelam dan terabaikan karena orang sekarang menghindari ke rumah sakit takut dicurigai corona. Sekarang yang batuk pura-pura sembuh walau dengan minum  jeruk nipis campur kicap, orang-orang yang  demam-pun cukup dengan air hangat pun sembuh asalkan jangan ke rumah sakit. Jangankan  itu hadis Nabi saw  menyuruh kita berdiri rapat-rapat  dan lurus dalam shalat   berjamaah, di Mesjid Raya Baiturrahman pun selang satu meter berdiri demi social distancing. Sekarang zaman kecurigaan yang sangat kental hingga habis shalat berjamaah langsung bangun memisahkan diri dengan jamaah lainnya demi menjaga agar tidak sempat komunikasi dan berjabat tangan. Sebab Nabi saw bersabda kalau kamu berjumpa dengan saudaramu yang muslim, maka sebarkan salam dan kalau kamu berjabat tangan, maka gugurlah semua dosa-dosa kamu. Hadis ini tidak berlaku lagi sekarang karena corona lebih selamat dari pada  kata Nabi saw. Inilah tindakan kita yang berlebih-lebihan sekali dalam menghadapi wabah ini. 
Pemerintah menyuruh kita lock down di rumah saja, artinya jangan keluar ditakutkan akan terjangkit wabah corona, tetapi yang ada di dalam penjara dikeluarkan, pada hal orang-orang yang ada dalam penjara steril asalkan orang luar  tidak masuk kesana. Demikian pula  kita disuruh menetap di rumah agar tidak terkontaminasi dengan wabah atau tidak membawa wabah keluar, sementara pembawa wabah melalui bandara atau pesawat terbang tidak dilarang, mau jadi apa kita ini? Mau ikut arahaan siapa ini?  Malah di Aceh diberlakukan jam malam, jam siang dibolehkan, lapangan udara boleh saja terbuka lebar di waktu siang, dan setelah tiga hari ada berita jam malam tidak ada lagi dan kedai-kedai kopi boleh buka asalkan jaga jarak. Mana mungkin kita jaga jarak kalau di dalam kedai kopi kecuali satu meja diletakkan satu atau dua kursi. Aneh –aneh saja peraturan sehingga dari  khidmat menjadi lucu. Sehingga razia tetap dilakukan untuk menjaga  agar tidak berkerumun. Ini tidak mungkin terjadi, lebih baik suruh lock down saja semua, dan pemerintah  menanggung semua  kebutuhan warga. Jika tidak, jangan membuat peraturan yang aneh-aneh. 
Padahal  1400 tahun yang lalu  Rasulullah saw telah  mengatakan bahwa  “kebersihan itu bahagian dari iman”, berwudhuk itu bersih, menbasuh tangan itu bersih, dan bersih itu adalah jauh dari penyakit. Apakah kita semua lakukan ini? Lebih ramai yang tidak shalat, kapan mereka berwudhuk?   Sebuah tempat yang terkena wabah tidak boleh dkunjungi, dan orang yang ada di tempat yang mewabah itu tidak boleh keluar,  orang lain tidak boleh masuk kedalam  daerah yang terkena wabah. Ini cara menghindarinya, namun cara inilah yang tidak dipatuhi. Seperti membiarkan  lapangan udara dan pesawat keluar masuk membawa penumpang dari tempat yang mewabah. Ini sama saja ingin membunuh semua warga Indonesia.  Akibatnya semua para ahli medis siapa saja yang pulang dari Jakarta (pulau Jawa) dan dari luar negeri berhak dituduh pembawa virus corona. Akibatnya siapa saja yang baru pulang dari tempat-tempat yang dituduhkan tadi harus karantina 14 hari.   Karantina pun banyak dilakukan hasil ijtihad sendiri, misalnya  sewa kamar dan sewa rumah selama 14 hari, ada yang buat tenda di pinggir sungai atau di hutan selama 14 hari, atau numpang di menasah atau di rumah kosong. Ini karena kesadaran sendiri karena pemerintah tidak sanggup menyediakan tempat. 
 Nampaknya cara yang disuruh oleh Nabi saw tidak diindahkan,  edaran pemerintah-pun tidak ada yang pasti bagaimana dijalankan. Akhirnya terbit fatwa sendiri-sendiri, sebagian masjid ditutup, sebagian dibuka, ada masjid tetap buka tapi shalat jamaah social distancing. Ada kedai yang buka walaupun hanya buka pintu, ada kedai yang tutup. Namun, kalau dilihat dari realitas yang terjadi, wabah ini tidak berbahaya dan tidak membuat orang takut. Nyatanya tidak banyak orang yang memenuhi masjid, malah semakin berkurang dari sebelum  corona virus, khusus bagi orang-orang yang berdomisili berdekatan masjid atau meunasah. Seharusnya kalau ini berbahaya dan mengancam keselamatan, pasti manusia berbondong-bondong ke rumah Allah untuk memohon ampun, bertaubat dan  berdoa  di tempat mustajabah ini selepas shalat lima waktu atau sebelum azan dan iqamah.  Namun ini tidak ada peningkatan. 
Malah yang paling disayangkan dalam keadaan seperti ini bagaimana kehidupan anak-anak di rumah-rumah yang terkurung atau ter-lock down bersama keluarganya. Apakah mereka mempunyai makanan yang layak dan bergizi untuk dimakan,  apakah orang tua mereka bisa mencari rizki dalam keadaan seperti ini, apakah mereka belajar di rumah? Dimana mereka belajar, dengfan siapa mereka belajar, katakanlah belajar online, apakah semua rumah-rumah tersebut memiliki internet atau HP android? Semua ini mungkin luput dari amatan kita karena sudah mendewakan virus corona hingga terabaikan pendidikan dan kepedulian terhadap masa depan anak bangsa. Kalau boleh dikatakan, virus corona ini tidak menyerang anak-anak karena disamping kekebalan tubuh mereka masih baik, dan merekapun masih bersih dari dosa, sehingga wabahpun tidak suka menghiggapi mereka.  Walaupun demikian dunia mereka mohon jangan diganggu, kebutuhan mereka  harus dipenuhi baik oleh keluarga, masyarakat ataupun pemerintah.

Muhammad AR 
Ketua Komisioner Pengawasan dan Perlindungan Anak Aceh (KPPAA)
×
Berita Terbaru Update