Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sepenggal Kisah di Penghujung Tahun, Aku dan Labuan Bajo

Senin, 10 Februari 2020 | 23.48 WIB Last Updated 2020-02-10T16:51:10Z

Acehvoice.com | Telah kudengar riwayat dari mereka yang pernah menginjakkan kaki di tanah ini. Cerita mereka umpama kecantikan Dewi Sinta yang menyihir Rahwana hingga rela keluar negeri Alengka demi sang Dewi. Pun meskipun tak sekhilaf Rahwana menyulik Dewi Sinta, khilaf?

Ya, karena pernah ada yang bilang padaku bahwa tiada manusia yang jahat, mereka hanya khilaf. Barangkali memang demikian. Aku melakukan sebuah perjalanan meninggalkan kotamu untuk sementara, demi perjumpaanku dengan Labuan Bajo nun jauh di seberang lautan.

Sesampainya di Labuan Bajo, satu per satu keindahan kujumpai. Yang tenang, yang damai, yang ramah, dan yang memikat. Barangkali aku telah jatuh hati pada tanah Manggarai. Telah kusiapkan perbekalan untuk menjelajahi keindahan Labuan Bajo.

Bersama para manusia yang gemar berpetualang demi menemukan keindahan yang tersembunyi di alam raya. Dari dermaga, aku telah melihat lautan di seberang melambai-lambai seakan memanggil diriku untuk mendekat. Maka, siang itu kami berlayar menjelajahi pulau-pulau, meninggalkan sementara semua beban.

Lautan seakan membuatku hanyut dalam buaian, angin semilir berirama rindu menerpa wajahku, terik matahari menghangatkan tubuhku. Alam memang tak pernah gagal menciptakan kebahagiaan dalam diri manusia.

Perjalanan telah sampai di sebuah pulau. Pulau Kelor namanya. Setelah jangkar dilabuhkan, sekoci disiapkan untuk kami bisa mencapai tepi pantai. Dari atas sekoci nampak manusia berderet di atas bukit. Menunggu antrean naik ke bukit teratas atau sekedar untuk bisa berdiri di spot foto terbaik.

Perjalanan kami berlanjut menuju pulau Rinca untuk melihat kadal raksasa. Aku sudah menantikan perjumpaan dengan hewan melata yang konon ludahnya mengandung racun yang dahsyat. Ketika kapal telah sampai di pulau Rinca, aku berharap bisa bertemu segera dengannya.

Puluhan manusia membanjiri pulau ini untuk bertemu sang bintang. Nampak sekumpulan komodo menikmati waktu istirahatnya. Mereka tak peduli puluhan mata manusia yang takjub menatap. Kulihat pula sang bintang bangkit dari tidur, menegakkan kepala dan menjulurkan lidahnya yang bercabang. Aku pun terpana.

Ketika senja mulai memberikan tanda akan kedatangannya, kapal membawa kami berlayar menuju pulau Kalong. Di sepanjang lautan lepas menuju pulau, aku melihat senja yang indah seperti senja yang pernah kulihat di matamu. Senja yang teduh, senja yang membuatku betah berlama-lama untuk menatapnya.

Labuan Bajo sekarang menempati peringkat di antara tujuan perjalanan yang paling dituntut di dunia, yang dicari oleh penggemar satwa liar, pengamat burung, penyelam dan tur budaya. Flores mulai tumbuh.

Labuan Bajo adalah kota nelayan yang terletak di ujung barat Flores di wilayah Nusa Tenggara di Indonesia timur.

Dulu sebuah desa nelayan kecil, Labuan Bajo di Flores sekarang menjadi pusat pariwisata yang sibuk. Ini adalah titik peluncuran untuk perjalanan ke Pulau Komodo dan Pulau Rinca, rumah bagi komodo yang terkenal. Di dekatnya Kepulauan Kanawa dan Seraya adalah kesempatan besar untuk melakukan beberapa penyelaman dan snorkeling. Dan setiap malam di Pulau Kalong ribuan kelelawar rubah terbang mengenakan tampilan yang menakjubkan.

Kota ini cukup kecil dan dapat dengan mudah dilalui dengan berjalan kaki dalam 10 hingga 15 menit. Ada berbagai gereja dan masjid yang menarik. Ojek Rp 5.000 dan bemo melewati setiap 5 menit jika Anda lelah berjalan. Anda dapat menyewa sepeda motor seharga Rp 75.000 per hari. Dan ada beberapa ATM yang bekerja dari berbagai bank (Mandiri, BNI, BRI, Danamon, Bank NTT) di kota dan jalan beraspal.

Bandara Komodo terletak hanya 1 km dari pusat Labuan Bajo dan memiliki 4-6 penerbangan setiap hari dari Bali.

Sedangkan pelabuhan mempunyai keberangkatan feri setiap hari ke Sape, dan keberangkatan mingguan atau dua mingguan ke Denpasar dan Sulawesi.

Ekonomi lokal di kota ini berpusat di sekitar pelabuhan feri dan pariwisata, toko-toko dan restoran lokal, dan perdagangan menyelam.

Sebagian besar turis asing adalah orang Eropa, banyak dari Italia, Australia, Inggris, dan Cina.

Syukur Alhamdulillah, aku sudah sampai dan melihat keindahannya. Dari ujung Indonesia ini aku belajar banyak hal, dua diantaranya bagaimana aku menikmati dan mensyukuri alam ciptaan Tuhan, dan belajar mencintai alam dan merindukan kesayangan.

Sungguh, ini merupakan perjalananku yang tentunya aku excited banget. Kisah perjalanan ini akan terus aku ingat sepanjang hayat. Special thanks to Bang Musannif dan Kak Muna yang sudah membawa saya dalam tour indah ini, juga teruntuk istri terkasih Maisarah yang sudah rela mengizinkan saya pergi meski dirimu tak ikut dalam rombongan ini, dan terima kasih untuk semua teman-teman tim Bencmarking Bali - Labuan Bajo, secara terkhusus buat Bang Dayan, Kak Nurul, dan best friend saya Bang Dafi dan Firman Butamah.
×
Berita Terbaru Update