Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ketika Wasit Sudah Menjadi Pemain

Senin, 03 Februari 2020 | 21.03 WIB Last Updated 2020-02-08T12:48:10Z


Oleh: Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

Acehvoice.com | Istilah wasit sama maknanya dengan jury dalam istilah bahasa Inggeris yang berfungsi untuk menengahi dan sekaligus memimpin sesuatu pertandingan dalam berbagai jenis olahraga. Dalam bahasa Arab dikenal istilah hakim yang dalam bahasa Inggeris disebut judge, sementara dalam bahasa Aceh untuk memimpin pertandingan juga disebut juri dengan ejaan Acehnya.

Sementara untuk memimpin dan menengahi persoalan di luar olahraga seperti pembagian harta, pemutusan hukuman bagi seorang kriminal disebut hakim.

Juri itu selalu terdiri dari orang-orang arif yang tidak memiliki kepentingan dengan para pemain dari kedua kesebelasan, kalau kebetulan ternyata juri punya hubungan keluarga atau ada kepentingan tertentu dengan salah satu kesebelasan maka dua alternnatif solusi yang harus diambil; pertama, juri harus diganti, atau kedua; permainan wajib ditunda sehingga memperoleh wasit yang netral.

Baca juga Ketika Perbedaan Pendapat Sahabat Pada Masa Rasulullah SAW

Tidak ada solusi lain yang lebih cocok untuk melanjutkan pertandingan, kalapun dipaksa harus ada maka berbagai kecurangan dari seorang juri akan hadir dan muncul. Satu kesebelahan maka wujudlah kondisi ada pihak yang teristimewa dan ada pula pihak lain yang terhina.

Dalam konteks kenegaraan, posisi juri disandang oleh pemimpin yang harus berdiri tegak di tengah rakyatnya dan tidak memilih serta tidak pula memilah. Semua rakyat yang ada dalam wilayah kepemimpinannya merupkan rakyatnya sang juri/pemimpin.

Manakala ada sebahagian rakyat yang berbeda pendapat atau berbeda tatacara peribadatan terkait perkara khilafiah maka sang juri harus berupaya untuk mempersatukan kedua belah pihak yang bersebelahan, bukannya harus memihak kepada sesuatu pihak.

Normalnya posisi seorang juri tetap saja menjadi juri dalam sebuah pertandingan, dan ia tidak akan dapat menjadi pemain selagi pertandingan berlangsung dan dia memimpin pertandingan tersebut. Demikian juga posisi seorang pemimpin, ia akan tetap menjadi pemimpin selagi ia masih mendapatkan mandat dari rakyatnya.

Maka selama itulah ia menjadi tempat bergantungnya rakyat, menjadi tempat rujukannya ummat, dan menjadi pengayom masyarakat, bukan menjadi penipu dan pengkhianat sebahagian rakyat dan ummat.

Posisi Wasit

Ketika kita nisbahkan wasit itu kepada seorang pemimpin maka posisi pemimpin tersebut menjadi pengayom, menjadi pendidik, menjadi pembimbing, menjadi mitra, menjadi guru, dan yang paling urgen lagi adalah sang pemimpin merupakan orang tua bagi rakyatnya.

Posisi orang tua tentunya bertanggung jawab terhadap semua anak-anaknya tanpa pilih kasih dan tanpa sisi menyisihkan melainkan harus diayomi semuanya. Kalau sebaliknya yang terjadi semisal ada anak yang dikasihi dan ada anak lainnya yang dibenci maka pada waktu itu sang orang tua tidak lagi berfungsi sebagai orang tua.

Ketika kita letakkan posisi pemimpin sebagai seorang guru lalu sang guru berhadapan denga dua kelompok muridnya yang sedang tauran, maka sang guru tidak boleh memihak dan membantu salah satu pihak dari dua pihak yang bertikai, melainkan harus mendamaikan kedunya tanpa menyalahkan satu di antara dua kelompok tersebut.

Apabila guru menyalahkan satu pihak dan mengangkat pihak lainnya maka perselisihan akan kontinyu dan sikap seperti itu bukan sikap seorang guru yang wajib menyayangi dan mendidik serta membimbing murid-muridnya.

Baca juga: Ketua KPPAA: Orang Tua Punya Peran dan Tanggung Jawab untuk Mengawasi Anak

Ketika diposisikan pemimpin sebagai pembimbing maka yang harus dilakukannya adalah bagaimana seorang pemimpin itu membimbing rakyatnya dengan arif lagi bijaksana dan jauh dari proses tolak tarik. Tidak boleh satu pihak ditolak menjauh darinya dan pihak lainnya ditarik bersamanya.

Sangat amat jauh karakter kepemimpinan pada sorang pembimbing kalau demikian yang terjadi. Karena posisi pemimpin itu sebagai pelindung bagi rakyatnya maka apasaja musibah yang menimpa rakyat maka rakyat harus dilindungi oleh pemimpinnya karena itu merupakan bahagian dari tugas utama seorang pemimpin.

Posisi seorang pemimpin itu betul-betul harus berada di tengah masyarakat dengan memperlakukan masyarakatnya sebagai bahagian dari dirinya sendiri, sehingga rasa kasih, rasa sayang, dan rasa cinta menyerupai kasih sayang dan cinta terhadp dirinya sendiri.

Di situlah perlunya seorang pemimpin yang adil, sehat badan, pikiran, mampu menahan emosi, tidak terlibat suatu kontrak dengan sebahagian rakyat yang mengharuskan sang pemimpin harus membela mereka manakala terjadi perselisihan dalam masyarkat.

Konkritnya posisi seorang pemimpin dalam masyarakat adalah; ia sebagai tongkat tempat masyarakat berpegang dalam kegelapan malam, ia sebagai hakim tempat masyarakat mencari keadilan, ia sebagai guru tempat masyarakat menimba ilmu, ia sebagai seorang ayah tempat masyarakat mengadu, ia sebagai seorang toke tempat masyarakat mencari kerja.

Karenanya manakala terjadi konflik di antara warga maka seorang pemimpin wajib menjalankan tugas kepemimpinannya yang tidak memihak.

Main Mata Wasit dengan Pemain

Seandainya seorang wasit sudah terlanjur bermain mata dengan pemain di lapangan hijau maka besar kemungkinan sang wasit akan tutup mata terhap kecurangan yang dilakukan pemain.

Sekiranya seorang pemimpin sudah bermain mata dengan sebahgian rakyatnya dengan tujuan pemimpin mau maju ke periode kedua dan mengharapkan bantuan suara pada segolongan rakyatnya, dan rakyat tersebut meminta sesutu sebagai bargaining dari pemimpin tersebut semisal berjanji memberikan beberapa posisi kepala dinas kepada rakyat tersebut walaupun tidak berkapasitas.

Atau sang pemimpin berjanji kalau dia menang atau sudah menang akan diam terhadap anarkisme yang dilakukan pendukungnya sehingga sebahagian rakyat lainnya kehilangan hak azasinya, semisal memberi peluang dan mendukung pendukungnya untuk merebut masjid orang lain, memaksa orang lain untuk mengikuti kehendak mereka, atau sang pemimpin dengan menggunakan kuasa yang diberikan rakyatnya menggunakan politik devide et imperra peninggalan Belanda yang disebut pulitek plah trieng oleh orang Aceh, yaitu dengan mengangkat sebelah pihak (yang ia senangi) dan menekan pihak lain (yang ia benci).

Kalau demikian yang terjadi maka pemimpin tersebut bukan pemimpin yang arif, melainkan pemimpin yang mirip dengan pareman atau gangster. Ketika seseorang mendapkan amanah menjadi seorang juri maka jadilah juri yang adil dan handal di lapangan hijau.

Ketika seseorang dipercayai rakyat menjadi pemimpin maka jadilah ia sebagai pemimpin seluruh rakyatnya sebagai pemimpin yang arif, adil, berani bertanggung jawab untuk semua rakyat bukan untuk sebahagian rakyatnya. Kalau tidak demikian maka jadilah juri sebagi pemain dan jadilah pemimpin sebagi bahagin dari sebahagian rakyatnya yang bakal mendatangkan malapetaka.

Kalau begitu yang terjadi maka kehadiran pemimpin itu tidak lebih sebagai penghancur ukhuwwah ummah, pelacur politik negara, pengecut terhadap tanggung jawab, dan pengkhianat terhadap rakyat para pemilihnya. Nauzubillah.

Untuk menghindari semua kejanggalan tersebut, seorang pemimpin yang kita ibaratkan sebagai juri dalam pengertian hakim, pengadil, yang arif, yang bijaksana, dan yang bertanggungjawab terhadap rakyatnya.

Posisikanlah dirimu sebagai pemimpin seluruh rakyat, sebagai penolong semua masyarakatnya, yang tidak pernah memihak kepada segolongan rakyat walupun mereka pernah membantu kita karena ketika seseorang menjadi pemimpin, maka ia menjadi pemimpin seluruh bangsanya baik yang mendukungnya dalam pemilu atau yang tidak mendukunnya karena mendukung kandidat lain.

Sangat tidak arif bagi seorang pamimpin yang dengan terang dan nyata memilah dan memilih rakyat ada yang dikasihi dan ada yang dibenci. Kondisi semisal itu menjurus kepada kehancuran dan keporak porandakan bangsa.

Ketika juri sudah menjadi pemain maka hilanglah keindahan dalam pertandingan. Ketika juri sudah menjadi pemain maka kacaulah aturan dalam permainan. Ketika pemimpin sudah mendukung sebahagian rakyat dengan menolak sebahagian yang lain maka hilanglah peluang kepemimpinan pada dirinya. [] 

Penulis adalah Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry
=diadanna@yahoo.com=
×
Berita Terbaru Update