Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Di Antara Empat Partai di Dunia, Hanya Satu Milik Kita?

Sabtu, 08 Februari 2020 | 19.37 WIB Last Updated 2020-02-08T12:37:24Z


Oleh: Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

Acehvoice.com | Partai yang kita maksudkan dalam tulisan ini adalah partai politik yang wujud dan berkembang baik di negara Indonesia maupun di dunia raya. Dalam perkembangan politik dunia hari ini peran partai politik sangat menentukan arah dan kiblat sesuatu negara menuju kota Makkah, Yerussalem, Vatikan, Thailand atau India. 

Bahkan hidup matinya warga dunia juga sangat ditentukan oleh eksistensi partai politik di sesuatu negara, karena lewat aktivitas partai politiklah sesuatu negara bahkan dunia itu berwarna sesuatu ideologi dan agama.

Biasanya dalam sesuatu negara itu partai politiknya sangat singkron, identik, dan menyatu dengan doktrin agama atau doktrin ideologi seperti Islam, Yahudi, Kristen, Hindu,Budha, komunis dan seumpamanya. Tetapi khusus untuk negara mayoritas muslim pengaruh agama dan ideologi agama tersebut cenderung bergeser kearah nasionalis, sekularis, pluralis, liberalis, dan komunis. 

Semua itu menjadi pengalaman negara Indonesia sebelum dan pasca merdera, serta kondisi terakhir hari ini. Selain Indonesia, kondisi serupa juga dialamai oleh negara Malaysia, Pakistan, Afghanistan, Bangladesh, Aljazair, Mesir, dan negara-negara mayoritas muslim lainnya di dunia.

Empat Partai yang Wujud di Dunia

Rincian totalitas partai politik yang ada di dunia dalam versi kita hari ini adalah meliputi partai Islam, partai muslim (ummat Islam), partai sekuler, dan partai kafir. 

Keempat partai tersebut selalunya wujud dalam beberapa negara mayoritas muslim tetapi tidak semua itu wujud dalam negara sekuler dan negara kafir seperti; Perancis, Inggeris, Amerika Serikat, Rusia, German, Belanda, dan lainnya.

Partai Islam adalah partai yang didirikan oleh ummat Islam dengan azar Islam, pengurusnya muslimin, anggotanya juga ummat Islam yang bergerak dan berjuang untuk kepentingan Islam. 

Partai Islam juga bertujuan untuk mewujudkan negara Islam, memberlakukan Hukum Islam, menjalin ukhuwwah Islamiyah sesama muslim, mengedepankan ukhuwwah wathaniyah sesama warga negara dan memberi perlindungan kepada kaum kafir sesuai dengan ketentuan syari’ah manakala partai Islam tersebut menguasai dan mengatur negara, di Indonesia termasuk dalam golongan ini seperti Partai MASYUMI di zaman Orla, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Persatuan Pembangunan di zaman kini.

Selaras dengan eksistensi Islam yang berkaitan dengan ‘aqidah, syari’ah, dan akhlaq maka setiap partai Islam di dunia ini harus mengikat diri dengan ‘aqidah Islamiyah melingkupi iman, tauhid, dan ideologi. 

Islam melarang ummatnya mencampur aduk antara kebenaran Islam yang diakui Allah dengan kebathilan agama lain yang ditolak Allah SWT. Karenanya pengurus partai Islam tidak boleh mencalonkan orang kafir menjadi pemimpin (eksekutif, legislatif, maupun yudikatif) bagi mayoritas ummat Islam. 

Partai Islam juga tidak boleh memberikan jabatan-jabatan tertentu kepada orang kafir manakala partai Islam tersebut berkuasa di sesuatu negara mayoritas muslim.

Terkait dengan syari’ah, partai Islam tidak boleh melarang, mengganggu, dan menodai peribadatan ummat Islam dalam bentuk dan ruang lingkup bagaimanapun juga. Sebaliknya partai Islam wajib memberikan kesempatan, fasilitas, dan waktu yang memadai kepada ummat Islam untuk berkiprah dan beraktifitas sesuai dengan tuntutan agamanya. 

Terkait dengan akhlak, partai Islam adalah partai yang mengedepankan prilaku baik, muslihat, dan santun dalam semua aktifitas politiknya sehingga jauh dari praktik tipu menipu, teror meneror, ancam mengancam, bajak membajak, curang mencurangi, bunuh membunuh dan semacamnya.

Konkritnya yang kita maksudkan partai Islam di sini adalah partai politik yang berazaskan ideologi Islam, dipimpin oleh orang Islam, berpengurus ummat Islam, bertujuan memajukan Islam, mengembangkan kehidupan ummat Islam, mendirikan negara Islam, menjalankan syari’at Islam dalam semua dimensi kehidupan bangsa. 

Partai Islam juga ketat mengawal upaya pendangkalan ‘aqidah Islamiyah, konsen dengan aplikasi akhlak karimah, dan mengutamakan ukhuwwah Islamiyah dalam hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Partai muslim, adalah partai yang didirikan oleh seorang atau beberapa orang Islam yang terkadang diberi azas Islam tetapi tidak memperjuangkan Islam atau sama sekali tidak berazas Islam dan mencampuradukkan kepengurusannya dengan ummat agama lain selain ummat Islam, perjuangan partaipun bukan sepenuhnya perjuangan Islam, seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), dan semisalnya. 

Partau muslim itu cenderung didominasi pengurusnya oleh ummat Islam dan mereka sering bekerja sama dengan non muslim untuk mencapai target, sasaran, dan tujuan partai seperti jabatan di lembaga eksekutif dan legislatif. 

Partai ummat Islam semacam ini tidak selaras dengan ketentuan Islam terutama sekali dalam tinjauan ‘aqidah Islamiyah karena praktik politiknya cenderung mencampuradukkan antara kebenaran Islam dengan kebathilan agama selain Islam.

Ia juga cenderung kepada melalaikan dan bahkan meninggalkan perintah Islam seperti shalat, zakat, puasa, dan mengedepankan kepentingan personal, kaum, golongan, dan kelompok untuk menjadi tujuan politiknya. 

Para kader partai ummat Islam juga cenderung menjurus kepada praktik hal-hal yang dilarang dalam Islam seperti menipu, mencurangi, mengancam, dan semacamnya karena mereka tidak mengikat diri dengan syari’ah sebagaimana yang diamalkan oleh kader-kader partai Islam.

Partai sekuler, adalah sesuatu partai yang dibangun dan diazaskan atas dasar kepentingan kaum dan golongan para pendiri partai itu sendiri yang jauh dari ketentuan sesuatu agama seperti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Demokrat (PD), Partai Nasional Demokrat (Nasdem), partai Solidaritas Indonesia (PSI), dan semacamnya. 

Partai sekuler bergerak dan berjuang selaras dan sesuai dengan ketentuan ideologi partainya yang mengenyampingkan keyakinan dan kepentingan agama baik  secara langsung atau tidak langsung.

Sepak terjang partai sekuler sama sekali tidak terikat dengan keyakinan dan kepentingan agama, melainkan sangat tergantung dengan keperluan dan kepentingan keyakinan dan kepentingan azas atau ideologi partainya. 

Makanya tidak perlu heran kalau partai semacam itu berkuasa di sesebuah negara maka kepentingan agama, bangsa dan negara terkadang terjejas serta terkesampingkan. Anggota partai sekuler berpolitik untuk kepentingan partai dan interes pribadi serta menegakkan atau merobah konstitusi negara sesuai kepentingannya bukan untuk menegakkan konstitusi agama.

Partai kafir, adalah partai yang diazaskan, didirikan, dan dikembangkan oleh orang-orang kafir dengan tujuan memajukan agama selain Islam, memberikan kesejahteraan kepada non muslim yang terkadang juga dengan menyisihkan, mengalahkan, dan menghancurkan Islam, ummat Islam, dan kepentingan ideologi Islam. 

Di Indonesia partai tersebut di zaman Orde Lama (Orla) diwakili oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai, Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Murba dan sejenisnya. Pada zaman Orde Baru (Orba) dilebur menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang kemudian lahir PDIP dan PDI kalah bersaing dengan PDIP serta hilang dalam peredaran. Zaman reformasi sekarang ini partai kafir mirip dengan Partai Damai Sejahtera, Partai Persatuan Indonesia (Perindo), dan semacamnya.

Partai yang Mana Milik Ummat Islam

Timbul pertanyaan besar di sini adalah; dari empat partai yang kita deskripsikan di atas, partai manakah yang boleh dimiliki dan menjadi milik ummat Islam? 

Selaras dengan konsep Islam bahwa segala sesuatu yang dilakukan ummat Islam itu harus menjadi bahagian dari pada ibadah dan dengan pekerjaan itu mendatangkan pahala bagi pelakunya maka ummat Islam harus memilih partai yang mengedepankan ideologi Islam, yang amalannya menjadi bahagian dari pada ibadah, yang solidaritasnya menjadi bahagian dari ukhuwwah Islamiyyah, dan yang berupaya dengan missi menjalankan syari’ah sebagai landasan konstitusinya.

Dengan kriteria tersebut di atas maka hanya satu-satunya partai yang representatif dan menjadi milik ummat Islam adalah Partai Islam sebagaimana kriteri yang telah kita gambarkan di atas walaupun namanya tidak langsung menyebut partai Islam seperti MASYUMI, PKS PPP, dan PBB di Indonesia. 

Walaupun dua partai terakhir itu oleh pimpinan dan pengelolanya sudah mempraktikkan perangai partai sekuler kalau bukan amalan partai kafir. Dengan demikian jelaslah kepada kita bahwa sebanyak apapun partai yang wujud di sesuatu negara dan di dunia ini hanya tetap satu saja yang menjadi partai milik ummat Islam yang dalam kategori partai-partai di atas kita sebut dengan nama Partai Islam. 

Selain itu apapun nama partainya, siapapun pendiri, pengurus, dan pengawas partainya, maka itu bukan partainya ummat Islam.

Oleh karenanya gagal kehidupan duniawi dan ukhrawi seorang muslim manakala ia memilih dan memiliki partai lain selai partai Islam. Lebih-lebih lagi apabila ia berjuang mati-matian lewat partai selain partai Islam yang dengan perjuangannya membuat Islam dan ummat Islam runyam, hancur, dan terkubur. 

Minimal dengan perjuangan partai selain partai Islam oleh seorang muslim membuat kesejahteraan dan ketenangan ummat Islam terusik, terganggu, dan teraniaya oleh kerja tangan mereka di luar partai Islam. Na’uzubillah, tsumma na’uzubillah.

Mengakhiri tulisan ini, menutupi huraian artikel ini, marilah kita perhatikan dan memahami ayat Allah yang satu ini: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (Al-‘Angkabut: 69). []

Penulis adalah Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry
=diadanna@yahoo.com=

×
Berita Terbaru Update