Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Wabah Kelaparan Pernah Melanda Tiongkok, 43 Juta Orang Tewas

Senin, 27 Januari 2020 | 22.27 WIB Last Updated 2020-01-27T15:39:22Z

Acehvoice.com | Negara Tiongkok pernah mengalami sebuah wabah kelaparan yang sangat buruk, yang telah merenggut jutaan jiwa rakyatnya. Bencana terburuk dalam sejarah negara itu telah melahirkan sebuah istilah “Sepuluh Ribu Lubang Manusia”, untuk menggambarkan betapa mengerikannya wabah kelaparan itu.

Kelaparan di China tahun 1876-1878 

Terdapat begitu banyak kuburan masal yang sangat besar di seluruh wilayah Tiongkok Utara. Dalam kurun waktu 3 tahun, jumlah mayat di sana mencapai 13.000.000 jiwa. Selama 2 tahun pertama terjadinya wabah tersebut, setiap harinya ada sebanyak 12.000 orang meninggal.

Bencana kelaparan itu terjadi akibat dari buruknya cuaca yang melanda seluruh wilayah Tiongkok. Bencana kekeringan yang menimpa wilayah Tiongkok Utara dari tahun 1876 sampai 1878 telah membakar seluruh ladang pertanian rakyat.

Hal itu menyebabkan tidak adanya stok pangan untuk kebutuhan sehari-hari rakyat selama 2 tahun tersebut. Tidak ada satupun yang mengetahui bencana kekeringan itu akan menimpa wilayah Tiongkok Utara, sehingga rakyat tidak mempersiapkan dengan baik hasil pertanian mereka sebelum bencana itu muncul.

Berbeda dengan wilayah Tiongkok Utara, wilayah Tiongkok Selatan mengalami bencana banjir akibat dari intensitas air hujan yang sangat tinggi di sana. Sebuah kenyataan pahit yang harus dihadapi oleh masyarakat di Tiongkok Utara. Namun, masyarakat di Tiongkok Selatan pun tidak serta merta merasa lega dengan bencana yang mereka hadapi.

Bencana banjir yang tengah menimpa mereka, sama-sama membuat rakyat menderita kelaparan. Hal itu disebabkan hasil pertanian mereka banyak yang terendam air sehingga tidak ada stok pangan di wilayah tersebut.

Bencana kelaparan itu telah benar-benar membuat rakyat Tiongkok menderita. Tingkat kriminalitas meningkat sangat tajam di seluruh wilayah yang terkena dampak bencana, khususnya di wilayah utara. Situasi kelaparan yang sudah sangat menggila membuat setiap orang tidak dapat berpikir jernih. Bunuh diri menjadi hal yang biasa terjadi dan berlangsung terus menerus setiap harinya. Bahkan aksi kanibalisme dianggap wajar oleh siapa saja yang melakukannya.

Berbeda dengan wilayah Tiongkok Utara, wilayah Tiongkok Selatan mengalami bencana banjir akibat dari intensitas air hujan yang sangat tinggi di sana. Sebuah kenyataan pahit yang harus dihadapi oleh masyarakat di Tiongkok Utara. Namun, masyarakat di Tiongkok Selatan pun tidak serta merta merasa lega dengan bencana yang mereka hadapi.

Bencana banjir yang tengah menimpa mereka, sama-sama membuat rakyat menderita kelaparan. Hal itu disebabkan hasil pertanian mereka banyak yang terendam air sehingga tidak ada stok pangan di wilayah tersebut.

Bencana kelaparan itu telah benar-benar membuat rakyat Tiongkok menderita. Tingkat kriminalitas meningkat sangat tajam di seluruh wilayah yang terkena dampak bencana, khususnya di wilayah utara. Situasi kelaparan yang sudah sangat menggila membuat setiap orang tidak dapat berpikir jernih. Bunuh diri menjadi hal yang biasa terjadi dan berlangsung terus menerus setiap harinya. Bahkan aksi kanibalisme dianggap wajar oleh siapa saja yang melakukannya.

Kelaparan di China tahun 1958-1962

Bencana kelaparan besar Tiongkok terjadi di Republik Rakyat Tiongkok pada 1958-1962. Kelaparan Besar di China disebabkan oleh pemimpin komunis yang berupaya untuk memaksa perubahan pada masyarakat. 

Sebagai bagian dari "Lompatan Jauh ke Depan", salah satunya adalah larangan akan kepemilikan tanah pribadi. Pemerintah merampas tanah-tanah milik petani pribadi pada 1958 dan membuatnya komunal untuk meningkatkan produksi pertanian. 

Selain itu Negeri Tirai Bambu ini juga tengah mengembangkan produksi besi dan baja. Jutaan petani dipekerjakan secara paksa.

China juga membuat kesalahan fatal dengan menerapkan metode penananam baru yakni bibit ditanam 3-5 meter di bawah tanah namun jaraknya berdekatan supaya peran tanah bisa dimaksimalkan dan lebih efisien. 

Namun pada praktiknya benih itu pertumbuhannya terganggu lantaran berdesakan. Kebijakan ini gagal. Ditambah dengan bencana banjir pada 1959 dan kekeringan tahun selanjutnya, ini mempengaruhi bangsa China. Kelaparan ini menyebabkan 43 juta orang. []

Sumber: Kumparan - Wikipedia

×
Berita Terbaru Update